Rabu, 20 Januari 2016

CARA-CARA MELAKSANAKAN ZAKAT, WAKAF DAN SHODAQOH

A.    Zakat
1.      Pengertian Zakat
            Zakat adalah memberikan harta yang telah mencapai nisab dan haul kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu. Nisab adalah ukuran tertentu dari harta yang dimiliki yang mewajibkan dikeluarkannya zakat, sedangkan haul adalah berjalan genap satu tahun.
            Dari sudut bahasa, kata zakat berasal dari kata “zaka” yang berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Segala sesuatu yang bertambah disebut zakat. Menurut istilah fikih zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada yang berhak
Dasar Hukum Zakat
(وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
            Dan Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. Q.S. Al-Baqarah, 2:110

2.    Harta-harta yang wajib dizakati
1)      Harta yang berharga, seperti emas dan perak.Haul 1 tahun nisabnya 2,5 %
2)      Hasil tanaman dan tumbuh-tumbuhan, seperti padi, gandum, kurma, anggur. Nisabnya 750 kg, kalo oleh air hujan zakatnya 10 %, kalo disiram 5%
3)      Binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing, dan domba.
4)      Harta perdagangan.
5)      Harta galian termasuk juga harta rikaz. 20 %
6)      Zakat Fitrah. Beras 3,5 liter


3.      orang yang berhak menerima zakat
1. Fakir, ialah orang yang tidak mempunyai dan tidak pula berusaha.
2. Miskin, ialah orang yang tidak cukup penghidupannya dengan pendapatannya sehingga ia selalu dalam keadaan kekurangan.
3. Amil, ialah orang yang pekerjaannya mengurus dan mengumpulkan zakat untuk dibagikan kepada orang yang berhak menerimanya.
4. Muallaf, ialah orang yang baru masuk Islam yang masih lemah imannya, diberi zakat agar menambah kekuatan hatinya dan tetap mempelajari agama Islam.
5. Riqab, ialah hamba sahaya atau budak belian yang diberi kebebasan berusaha untuk menebus dirinya agar menjadi orang merdeka.
6. Gharim, ialah orang yang berhutang yang tidak ada kesanggupan membayarnya.
7. Fi sabilillah, ialah orang yang berjuang di jalan Allah demi menegakkan Islam.
8. Ibnus sabil, ialah orang yang kehabisan biaya atau perbekalan dalam perjalanan yang bermaksud baik (bukan untuk maksiat).

4.      Manajemen Pengelolaan Zakat Produktif
1. Pengelolaan harus berlandasakn Alquran dan Assunnah.
2. Keterbukaan. Untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amil    
    zakat, pihak pengelola harus menerapkan manajemen yang terbuka.
3. Menggunakan manajemen dan administrasi modern.
4. Badan amil zakat dan lembaga amil zakat harus mengelolah zakat dengan sebaik-
    baiknya.

5.      tujuan pengelolaan zakat

1.  Mengangkat harkat dan martabat fakir miskin dan membantunya keluar dari kesulitan  dan penderitaan.
2. Membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh para mustahik
3. Menjembatani antara yang kaya dan yang miskin dalam suatu masyarakat.
4. Meningkatkan syiar Islam
5. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara.
6. Mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial dalam masyarakat.

6.      Hikmah Ibadah Zakat
  1. Bagi muzakki zakat berarti mendidik jiwa manusia untuk suka berkorban dan membersihkan jiwa dari sifat kikir, sombong dan angkuh yang biasanya menyertai pemilikan harta yang banyak dan berlebih.
  2. Bagi mustahik, zakat memberikan harapan akan adanya perubahan nasib dan sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan suudzan terhadap orang-orang kaya, sehingga jurang pemisah antara si kaya dan si miskin dapat dihilangkan.
  3. Bagi masyarakat muslim, melalui zakat akan terdapat pemerataan pendapatan dan pemilikan harta di kalangan umat Islam. Sedangkan dalam tata masyarakat muslim tidak terjadi monopoli, melainkan sistim ekonomi yang menekankan kepada mekanisme kerja sama dan tolong-menolong.

B.     WAKAF
1.      Pengertian Wakaf
Ditinjau dari segi bahasa wakaf berarti menahan. Sedangkan menurut istilah syara’, ialah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya, untuk diambil manfaatnya untuk kebaikan dan kemajuan Islam. Menahan suatu benda yang kekal zatnya, artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya disedekahkan untuk diambil manfaatnya saja.

Hukum wakaf adalah sunah
ابْنَ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يَنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدِ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ (رواه مسلم) 
Artinya: “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga (macam), yaitu sedekah jariyah (yang mengalir terus), ilmu yang dimanfaatkan, atu anak shaleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

2.      Syarat Wakaf

1) Diwakafkan untuk selama-lamanya, tidak terbatas waktu tertentu (disebut takbid).
2) Tunai tanpa menggantungkan pada suatu peristiwa di masa yang akan datang. Misalnya, “Saya 
    wakafkan bila dapat keuntungan yang lebih besar dari usaha yang akan datang”. Hal ini
    disebut tanjiz
 3) Jelas mauquf alaih nya (orang yang diberi wakaf) dan bisa dimiliki barang yang diwakafkan  (mauquf) itu

4.      Rukun Wakaf
1)      Orang yang berwakaf (wakif), syaratnya;
              a. kehendak sendiri
          b. berhak berbuat baik walaupun non Islam

2)      Sesuatu (harta) yang diwakafkan (mauquf), syartanya;
a.      barang yang dimilki dapat dipindahkan dan tetap zaknya, berfaedah saat    diberikan 
         maupun dikemudian hari
b.      milki sendiri walaupun hanya sebagian yang diwakafkan ataumusya (bercampur dan tidak dapat dipindahkan dengan bagian yang lain

3)      Tempat berwakaf (yang berhaka menerima hasil wakaf itu), yakni orang yang memilki sesuatu, anak dalam kandungan tidak syah.
4)      Akad, misalnya: “Saya wakafkan ini kepada masjid, sekolah orang yang tidak mampu dan sebagainya” tidak perlu qabul (jawab) kecuali yang bersifat pribadi (bukan bersifat umum)

5. Harta yang Diwakafkan
a. sebidang tanah
b. pepohonan untuk diambil manfaat atau hasilnya
c. bangunan masjid, madrasah, atau jembatan

C.    SEDEKAH
1.    Pengertian Sedekah

Sedangkan  “Sedekah“  secara bahasa berasal dari akar kata (shodaqa) yang terdiri dari tiga huruf : Shod- dal- qaf, berarti sesuatu yang benar atau jujur. Kemudian orang Indonesia merubahnya menjadi Sedekah.

Firman Allah Qs. Al-Baqarah ayat 261




   @sW¨B tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムóOßgs9ºuqøBr& Îû È@Î6y «!$# È@sVyJx. >p¬6ym ôMtFu;/Rr& yìö7y Ÿ@Î/$uZy Îû Èe@ä. 7's#ç7/Yß èps($ÏiB 7p¬6ym 3 ª!$#ur ß#Ï軟Òム`yJÏ9 âä!$t±o 3 ª!$#ur ììźur íOŠÎ=tæ
        
         Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه أنَّ ناساً قالوا : يَا رَسُولَ الله ، ذَهَبَ أهلُ الدُّثُور بالأُجُورِ ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أمْوَالِهِمْ ، قَالَ : أَوَلَيسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ بِهِ : إنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقةً ، وَكُلِّ تَكبيرَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَحمِيدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً ، وَأمْرٌ بالمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهيٌ عَنِ المُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وفي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ  قالوا : يَا رسولَ اللهِ ، أيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أجْرٌ ؟ قَالَ : أرَأيتُمْ لَوْ وَضَعَهَا في حَرامٍ أَكَانَ عَلَيهِ وِزرٌ ؟ فكذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا في الحَلالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ رواه مسلم

         Dari Abu Dzar radhiallahu 'anhu : Sesungguhnya sebagian dari para sahabat berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershadaqah dengan kelebihan harta mereka”. Nabi bersabda : “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershadaqah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shadaqah, tiap-tiap tahmid adalah shadaqah, tiap-tiap tahlil adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemungkaran adalah shadaqah dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shadaqah“. Mereka bertanya : “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”. (HR. Muslim)


CARA-CARA MELAKSANAKAN PENGURUSAN JENAZAH

A.   Pengertian Jenazah
Di dalam masyarakat sering terjadi pembedaan antara jenazah dan mayit.
1.  Jenazah adalah jasad mati yang sudah dirawat.
2.  Mayit adalah jasad mati yang belum dirawat.
B.   Tanda-Tanda Kematian
1)  Menyebut nama yang sudah meninggal
2)  Daun telinga layu
3)  Kaki mengeluarkan bintik-bintik keringat kental dan dingin
4)  Pupil mata tidak memberikan respon jika dirangsang
5)  Ngorok sembari mengeluarkan buih
6)  Jika tidak ada petugas medis, periksalah denyut nadi di pergelangan tangan, leher dan jantung.
7)  Bintik merah di punggung.

C.   Persiapan Jenazah
1)  Bilamana seorang dari kamu sakit, maka hendaklah sabar dan berdoa:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
2)  dan hendaklah ia kamu jenguk
3)  Dan bila ia hampir sampai kepada ajalnya, maka hendaklah ia bersangka baik kepada Allah
4)  dan berwasiatlah kalau ia meninggalkan barang milik
5)  Hendaklah ia kamu talqinkan (tuntun baca) orang yang akan meninggala "Laa Ilaaha Illa Llah"
6)  dan hadapkan ia ke arah qiblat
7)  Kemudian bilamana ia meninggal, maka pejamkanlah matanya
8)  Ikat dagunya agar mulutnya tertutup, kemudian posisikan tangannya di atas perut layaknya orang bersedekap
9)  dan doakanlah baginya
10)  serta selubungilah ia dengan kain yang baik.
11)  Kemudian lunasilah hutangnya dengan segera, kalau ia berhutang
12)  Lalu segeralah pemeliharaannya
13)  dan kabarkanlah kepada kerabat dan teman-temannya kaum muslimin

D.   Doa Menghadapi Orang yang Baru Mati
اللَّهُمَّ اغْفِرْ ِل  ……..وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ

E.   Orang yang dianjurkan memandikan jenazah :

1)    Untuk jenazah laki-laki
a)  Bapak/anak laki-laki
b)  Kakek
c)  Baru keluarga terdekat dan muhrim dari pihak laki-laki
d)  Istrinya
2)    Untuk jenazah perempuan
a)  Ibunya/anak perempuan
b)  Neneknya
c)  Baru keluarga terdekat dan muhrim dari pihak perempuan
d)  Suaminya
e)  Jika jenazah anak laki-laki, boleh yang memandikan perempuan dan jika jenazah itu anak perempuan boleh yang memandikannya laki-laki.

F.    Cara Memandikan Mayat

1)    mulailah dari anggota kanannya serta anggota wudlu
2)    mandikanlah dg bilangan gasal, tiga atau lima kali atau lebih dari itu, dengan air dan daun bidara, serta pada kali yang terakhir taruhlah kapur barus meskipun sedikit, dan jalinlah rambut mayat perempuan tiga pintal
3)    lalu keringkanlah dengan handuk
4)    Hendaklah mayat pria dimandikan oleh orang pria, dan dibenarkan bagi salah seorang dari suami-istri memandikan lainnya
5)    Dan tutupilah kalau ada cela tubuhnya

G.   Cara Mengkafani Mayat

1)  Kafan-(bungkus)-lah mayat itu dengan baik-baik dalam kain putih,  yang menutup seluruh tubuhnya.
2)  Dan bila kamu hendak mengukupnya (mengasapi dengan wewangian), maka ukuplah ia tiga kali.
3)  lulutlah ia dengan bau-bauan yang harum (cendana), kecuali mayat yang sedang berihram, maka janganlah kamu tudungi kepalanya, jangan kamu lulut badannya dan jangan pula kamu kenakan harum-haruman.
4)  Kafanilah mayat pria dalam tiga helai kain.
5)  dan mayat wanita dengan kain basahan, baju kurung, kudung-selubung lalu kain.
6)  Jangan berlebih-lebihan dalam hal kafan.

H.   Cara Menshalatkan Mayat

1) Model Pertama
a)  Letakan jenazah menghadap kiblat (kepala di utara khusus di Indonesia) dan boleh dishalatkan di dalam masjid
b)  Niat ikhlas
c)  Takbir pertama, membaca al-fatihah dan shalawat
d)  Takbir kedua, membaca do’a “Allahummagfirlahu...”
e)  Takbir ketiga, membaca doa Allahumma lihayina..”
f)   Takbir keempat, langsung salam

2)    Model Kedua)
a)  Letakan jenazah menghadap kiblat (kepala di utara khusus di Indonesia) dan boleh disholatkan di dalam masjid
b)  Niat ikhlas
c)  Takbir pertama, membaca al-fatihah
d)  Takbir kedua, membaca shalawat
e)  Takbir ketiga, membaca doa allahumma ighfirlahu…
f)   Takbir keempat, membaca allhumma la tahrimna ajrahu wala tudlillana ba’dahu…langsung salam…


3)    Doa dalam Shalat Jenazah

اللَّهُمَّ َاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَنَقِّهِ مِن الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَهُ

Atau:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيمَانِ
4) Dan do'a bagi anak-anak:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا سَلَفًا وَ فَرَطًا وَأَجْرًا

Beberapa catatan tambahan…
Dan bolehlah kita menshalatkannya di dalam masjid. Shalatkan ia, berjama'ah tiga baris. Dan hendaklah imam berdiri pada arah kepala mayat pria dan arah tengah(lambung) mayat wanita.
Janganlah menshalatkan pada waktu terbit matahari kecuali sesudah naik, pada waktu tengah-tengah hari dan pada waktu hampir terbenam matahari kecuali sesudah terbenam.

I.      Cara Menguburkan Jenazah

a)    Sesudah dishalatkan, bawalah janazah itu ke pekuburan dengan cepat-cepat.
b)    dan iringilah ia dengan berjalan di sekelilingnya, dekat padanya, dengan diam.
c)    Dan janganlah orang wanita pergi mengiringinya.
d)    Dan janganlah kamu duduk sehingga janazah itu diletakkan.
e)    Dan apabila kamu melihat janazah, meskipun janazah Yahudi, maka berdirilah sehingga melalui kamu atau diletakkan.
f)     Dan kuburlah mayat itu dalam lubang yang baik dan dalam.
g)    Buatlah baginya galian lahat serta pasanglah di atasnya batu-bata mentah dalam kuburan kaum muslimin.
h)   Masukanlah mayat itu dari arah kaki kubur dan bacalah ketika meletakkannya dalam kubur: "Bismilla-hi wa 'ala- millati Rasu-lilla-h.
i)     Serta tutuplah atas kubur mayat wanita waktu dikuburnya, dan turunlah ke dalam kuburnya orang yang tak bersetubuh pada tadi malamnya.
j)      Dan letakkanlah mayat itu menghadap qiblat.
k)    Janganlah kamu menguburkan mayat pada waktu matahari terbit kecuali sesudah naik, pada waktu tengah-tengah hari(matahari di arah atas kepala) dan pada waktu hampir terbenam kecuali sesudah terbenam,
l)     serta janganlah meninggikan kubur lebih dari sejengkal
m)  serta janganlah kamu buat tembok di atasnya tetapi buatlah tanda di atasnya dengan batu umpanyanya, pada arah kepalanya.
n)   Dan taburilah dengan tanah dari arah kepala tiga kali.
o)    Dan kalau kamu tiba di kuburan sedang kubur belum selesai digali maka duduklah menghadap qiblat .
p)    Dudukmu jangan di atas kuburan dan janganlah kamu berjalan di antara kuburan dengan alas kaki.
q)    Bila sudah selesai menguburkan maka do'akanlah, mintakan ampun dan ketetapan hati bagi mayat .