Selasa, 22 September 2015

Silabus Bim.Pengamalan Ibadah



Mata Kuliah
:
Bim.Pengamalan Ibadah
Kode Mata Kuliah
:
10432
Komponen
:
MKL
Semester
:
III
Program Studi
:
Pendidikan Agama Islam
Bobot
:
2 Sks


I
Tujuan
Setelah mahasiswa mengikuti secara aktif seluruh program perkuliahan BimbinganPraktik Pengamalan Ibadah diharapkan memiliki pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan yang bertalian dengan Tata-cara Peribadatan sesuai Syari’at Islam yang dicontohkanolehRasululloh SAW
.
II
DeskripsiMatakuliah
Mata kuliah ini merupakan praktik dalam pelaksanaan ibadah maghdoh dan ghair maghdoh. Membahas bagaimana tata cara dalam beribadah, bermua’amalah dan munakahat berdasarkan sumber yang qothi’.
III
TopikInti
1.      Cara-cara Membersihkan diri, pakaian dan tempat sholat.
2.      Cara-cara Berwudlu, Tayamum dan mandi syar’i
3.      Cara-cara menutup aurat, menghadap kiblat dan menentukan waktu sholat.

4.      Cara-cara melaksanakan sholat :
a.        Sholat fardlu
b.       Sholat janazah
c.        Sholat ‘Idain
d.       Sholat kusuf /khusuf
e.        Sholat Istisqo
f.        Qiyamu Romadlon
g.       Sholat-sholat sunnah rawatib
h.       Sholat –sholat nawafil lainnya
i.         Sholat jama’ & Qoshor

5.      Cara-cara Pengurusan Jenazah:
-         Mengurus orang sakit
-         Memandikan mayat
-         Mengkafani mayat
-         Mengubur

6.      Cara-cara melaksanakan zakat, wakaf  dan shodaqoh:
-         Barang-barang yang wajib dizakati, nishab dan kadar zakatnya.
-         Zakat Fitrah
-         Shodaqoh-shodaqoh lainnya
-         Wakaf  (permasalahan dan tatacaranya)
-          
7.      Cara-cara melaksanakan ibadah puasa dan haji;
-         Amalan-amalan yang berkaitan dengan puasa;
-         Tata cara ibadah Haji dan Umrah.


8.      Cara-cara Penyembelihan
-         Cara-cara menyembelih binatang ternak pada umumnya;
-         Cara-cara penyembelihan dan pendistribusian binatang Qurban
-         Cara-cara penyembelihan dan pendistribusian binatang ‘Aqiqah.


III
Referensi
1.       Al-Qur'an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI
2.       Ibnu Qudamah, Abdullah bin Ahmad bin Muhammad, Al-Mughni li Ibin al-Qudamah, Maktabah al-Riyadfh al-Haditsah, Riyadh, 1981
3.       Ibnu Rusyud, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad, Bidayah al-Mujtahid wa nihayah al-Muqtashid, Daar al Fikr, tt.
4.       Nawawi, al –Imam, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Zakariya ‘Ali Yusuf, tt.
5.       Sabiq al-Sayyid, Fiqh al-Sunnah, Daar al-Fikr, Beirut, Libanon, 1983.
6.       Shan’ani, al, Muhammad bin Isma’il al-Kahlani, Subul al-Salam, Dahlan, Bandung.
Taqiyu al-Din Abu Bakar, Kifayah al-Akhyar, Sulaiman, Mar’i, Singapura.


CARA-CARA MEMBERSIHKAN DIRI, PAKAIAN DAN TEMPAT SHOLAT



PERINTAH BERSUCI
      Agama Islam adalah agama yang suci ajarannya yang mendorong umatnya untuk hidup bersih dan suci, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 222 :
š 
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
      Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.
Hadist  Nabi tentang perintah bersuci :
الا سلام نضيف فتنظفوا فانه لايدخل الجنة الآنضيف
      Artinya : “Islam itu bersih, maka dari itu jagalah kebersihan! Sesungguhnya tidak dapat masuk surga kecuali orang yang bersih”.  (H.R. Thabrani)
النظافة تدعو الى الايمان
      Artinya : “Sesungguhnya kebersihan itu membawa kepada Iman.” (H.R. Thabrani)
Bersuci itu dapat dibagi 2 macam, yaitu :
  1. Bersuci dari dosa, yakni bertobat kepada Alla yang merupakan Tharah Ruhaniah;
  2. Bersuci dari hadas atau dari segala sesuatu yang najis dan yang mengotori badan, yaitu mandi janabat dan berwudhu atau penggantinya, yakni tayamum, sebagai bentuk thaharah jasmaniah. Bersuci dari kotoran badan tanpa ada kaitan secara langsung dengan pelaksanaan ibadah mahdhah, yaitu mandi secara teratur, mencuci setelah buang air, dsb. (Abdul Hamid & Maman Abd. Jalil, 2009 : 153-154)
Beberapa hal yang meliputi beberapa perkara tentang bersuci :
  1. Alat bersuci, seperti air, tanah dan sebagainya.
  2. Kaifiat (cara) bersuci.
  3. Macam dan jenis-jenis najis yang perlu disucikan.
  4. Benda yang wajib disucikan.
  5. Sebab-sebab atau keadaan yang menyebabkan wajib bersuci
Air terdapat beberapa bagian :
      Air mutlak, yakni air yang suci dan menyucikan. Air inilah air yang dipakai berwudhu dan mandi janabat. Air mutlak ini dapat berupa air  hujan, es, salju, dan embun.
      Air suci tetapi tidak mensucikan, yaitu zat nya suci, tetapi tidak sah dipakai untuk menyucikan sesutu. Contohnya : air yang telah berubah salah satu sifatnya karena karena bercampur dg benda yg suci spti kopi, teh,air yg sedikiti, air kelapa dll. (Sulaiman Rasyid; 2006 : Hal. 15)
      Air musta’mal, yaitu air yang telah digunakan/air bekas, boleh dipakai untuk berwudhu sepanjang belum berubah warna dan baunya kecuali kotor tidak boleh digunakan.
      Air yang bernajis, terbagi kedalam 2 bagian :
a)      sudah berubah salah sifatnya oleh najis. Air ini tidak boleh dipakai baik sedikit ataupun banyak, sebab hukumnya spt najis.
b)      Air bernajis, tetapi tidak berubah salah satu sifatnya (kurang dari 2 kulah)
  
       Air yang makruh, yaitu air yang terjemur oleh oleh matahari dalam bejana selain bejana emas dan perak.
PENGERTIAN HADAS DAN NAJIS
      Hadas, yaitu keadaan diri pada seorang muslim yang menyebabkan ia tidak suci, dan tidak sah untuk mengerjakan sholat.
      Najis, menurut bahasa berarti kotor, tidak bersih atau tidak suci. Sedangkan menurut istilah adalah kotoran yang seorang muslim wajib membersihkan diri dan mencuci apa-apa yang terkena najis.
Benda-benda yang najis :
  1. Bangkai
  2. Darah
  3. Babi, anjing, binatang jalalah (binatang ternak yang memakan kotoran)
  4. Kotoran yang keluar dari tubuh manusia dan binatang yang berupa kencing, tinja, nanah, muntah, mani, madzi dan wadi
(Drs. M. Suparta, MA,dkk, 1996 :66-72)
      Firman Allah :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِير

Artinya : “.  Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, ......”
(Al-Maidah :3)
Kaifiat/cara mencuci benda yg kena najis :
  1. Najis Mugallazah (Tebal), yaitu najis anjing. Benda yang terkena najis ini hendaklah dibasuh tujuh kali, satu kali diantaranya hendaklah dibasuh dg air yg dicampur tanah.
  2. Najis Mukhaffafah (ringan), misalnya kencing anak laki-laki yang belum memakan makanan lain selain ASI. Mencuci benda yang kena najis  ini sudah memadai dg memercikan air pada benda itu meskipun tidak mengalir. Adapun kencing anak perempuan hendaklah dibasuh sampai air mengalir diatas benda yg kena najis itu, dan hilang zat najis dan sifat-sifatnya, sebagaimana mencuci kencing orang dewasa.
  1. Najis Mutawassitah (Pertengahan), yaitu najis yang lain daripada kedua macam yg tersebut diatas. Najis ini dibagi menjadi 2 bagian :
a)    Najis Hukmiyah, yaitu yg kita yakini adanya, tetapi tidak nyata zat, bau, rasa dan warnanya, seperti kencing yg sudah lama kering, sehingga sifat-sifatnya telah hilang. Cara mencucinya ini cukup dengan mengalirkan air diatas benda yg kena itu.
b)   Najis ‘ainiyah, yaitu yg masih ada zat, warna, rasa dan baunya, kecuali warna bau yg sangat sukar menghilangkannya sifat ini dima’afkan. Cara mencuci najis ini hendaklah dg menghilangkan zat, rasa, warna dan baunya.

Istinja’ adalah bersuci setelah buang air besar atau buang air kecil
      Cara-cara Istinja’ :
  1. Istinja’ itu dilakukan dg batu atau air atau keduanya;
  2. Istinja harus dilakukan dengan tangan kiri;
  3. Setelah selesai beristinja hendaknya mencuci tangan dg sabun atau menggosok-gosokannya dg tanah.
Bersuci sebelum shalat :
  1. Wudhu, yaitu merupakan salah satu dari tiga bentuk ibadah dalam rangka menghilangkan hadas, dalam hal ini adalah hadas kecil.
  2. Mandi, yaitu dilakukan untuk bersuci dari hadas besar; dan
  3. Tayammum, yaitu dilakukan untuk menggantikan wudhu’ atau mandi, jika terdapat halangan untuk melakukan wudhu’ atau mandi  
  •  Untuk power point bisa di download klik aza